Beras merah turunkan resiko diabetes

Beras merah turunkan resiko diabetes
Pondok Alam, Mengkonsumsi beras merah ternyata tidak hanya berfungsi untuk menurunkan berat badan, sebuah studi terbaru menunjukkan, beras merah ampuh untuk mengurangi risiko terkena diabetes.
Beras adalah bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Saat dipanen, beras masih tertutup kulit sekam (epicarp). Beras juga dibungkus oleh kulit bagian dalam atau kulit ari (aleuron dan pericarp). Bulir padi yang dipanen selanjutnya melalui tahap pengeringan dan perontokan, pemecahan kulit, dan penggilingan.

Nasi yang kita makan seharihari atau nasi putih umumnya berasal dari beras yang telah digiling. Penggilingan bulir padi menghasilkan beras yang bersih tanpa kulit ari. Pengelupasan ini membuat beras menjadi pulen setelah dimasak, namun menghilangkan sebagian gizi yang terkandung di dalam beras.
Beras merah umumnya diolah dengan ditumbuk atau dipecah kulitnya. Hal ini membuat kulit arinya yang berwarna merah masih utuh. Pada kulit ari inilah terdapat kandungan protein, vitamin, mineral, lemak, dan serat yang sangat penting bagi tubuh.

Menurut sebuah studi terbaru, menggantikan nasi putih dalam diet Anda dengan nasi merah dapat mengurangi risiko penyakit diabetes tipe 2. Penemuan ini teramat penting karena konsumsi beras putih di Amerika Serikat telah meningkat secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.

Tercatat, sekitar 18 juta orang Amerika Serikat menderita diabetes tipe 2. Para peneliti di Harvard School of Public Health tersebut menyatakan, makan dua atau lebih porsi nasi merah selama seminggu tampaknya terkait dengan penurunan risiko diabetes tipe 2. Di sisi lain mereka melaporkan, makan lima atau lebih porsi nasi putih selama seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit yang sama.

Qi Sun MD, seorang instruktur bidang kedokteran di Brigham and Women’s Hospital di Boston, Amerika Serikat dan rekan-rekannya di Harvard memperkirakan, menggantikan 50 gram setiap hari beras putih (tidak dimasak, setara dengan satu sampai tiga sendok makan) dengan jumlah yang sama dengan beras merah akan menurunkan risiko menderita diabetes tipe 2 sebesar 16 persen.

Sementara menggantikan beras putih dengan porsi yang sama dengan biji-bijian lain, seperti jelai dan gandum, terkait dengan 36 persen penurunan risiko diabetes. Studi ini akan diterbitkan dalam jurnal online Archives of Internal Medicine. Para peneliti mengatakan studi ini adalah yang pertama untuk secara khusus membandingkan nasi putih dengan nasi merah dalam kaitannya dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 pada warga Amerika Serikat.

”Konsumsi beras di Amerika Serikat telah secara drastis meningkat dalam beberapa dekade terakhir,” kata Sun. ”Saya percaya, mengganti nasi putih dan jenis lain dengan gandum termasuk beras merah akan menurunkan risiko diabetes tipe 2,” lanjutnya.
Beras putih dibuat dengan menghilangkan kulit sekam dan bagian-bagian bibit dari beras merah. Para peneliti mengemukakan bahwa lebih dari 70 persen beras yang dimakan di Amerika Serikat adalah jenis yang putih.

Dalam studi tersebut, para ilmuwan meneliti konsumsi beras dan risiko diabetes pada 39.765 pria dan 157.463 perempuan di tiga penelitian besar, yaitu Health Professionals Follow-Up Study dan Nurses Health Study I and II. Mereka menganalisis jawaban atas kuesioner selama empat tahun lamanya tentang diet, gaya hidup dan kondisi kesehatan.

Setelah disesuaikan dengan usia dan problem gaya hidup lainnya serta faktor risiko diet, orang yang mengonsumsi lima atau lebih porsi nasi putih per minggu memiliki 17 persen peningkatan risiko diabetes, dibandingkan dengan orang-orang yang makan kurang dari satu porsi per bulan. Tetapi, makan dua atau lebih porsi beras merah per minggu terbukti menurunkan risiko 11 persen terkena diabetes tipe 2, dibandingkan dengan makan kurang dari satu porsi beras merah per bulan.

Kata para peneliti, beras putih memiliki indeks glisemik lebih tinggi daripada beras merah. Indeks itu adalah ukuran dari seberapa cepat tingkatan darah glukosa mengangkat makanan tertentu, dibandingkan dengan kadar glukosa yang sama.
”Tingginya indeks glisemik saat mengonsumsi beras putih kemungkinan akibat perusakan struktur fisik dan botani beras selama proses pemurnian,” terang para peneliti dalam tulisannya.

”Konsekuensi lain dari proses pemurnian, termasuk kehilangan serat, vitamin, magnesium, dan mineral lainnya, seperti lignan, phytoestrogen, dan asam fitat, yang mungkin menjadi faktor protektif untuk risiko diabetes,” lanjut mereka.

Para peneliti menyarankan mengganti beras putih dan biji-bijian halus lain dengan beras merah untuk mencegah diabetes tipe 2. Beras merah, kata para peneliti, sering tidak cepat menghasilkan peningkatan kadar gula darah setelah makan.[okezone.com]

Subscribe Our Newsletter

Dapatkan info dari Pondok Alam dengan mendaftarkan email anda